27 Mei 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Posisi Media dan Umat, Belajar Dari Kasus Ahok


Posisi Media dan Umat, Belajar Dari Kasus Ahok

Opini Oleh : Winda Sari

Pernyataan mencegangkan datang dari seorang tokoh terkemuka, ya ia adalah Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, atau yang akrab disapa Ahok.

Ahok dituding telah melecehkan Al-Qur’an, sebagai kitab suci umat Islam. Wajar bila kemudian kaum muslim marah dan menuntut agar Ahok ditangkap. Pasalnya, ia telah menghina Al Qur’an dengan pernyataan bahwa kaum muslim telah dibodohi surah Al-Maidah ayat 51.

Sontak pernyataan tersebut mendapatkan respon serta kecaman dari kaum muslim dan para ulama. Bukan hanya di Indonesia, tapi di berbagai Negara.

Banyak dari kelompok Islam yang akhirnya menuntut Ahok di tangkap dan diadili sesuai hukum yang berlaku. Karena sampai saat ini, aparat kepolisian terlihat masih belum bertindak dengan tegas.

Sejurus, umat Islam di Indonesia pun menggalang aksi untuk mengingatkan penguasa agar bertindak adil dan bijaksana, terutama yang berkaitan dengan pelanggaran hukum.

Media yang ada, bahkan tidak menyorot akar permasalah yang menyebabkan umat Islam marah besar. Media justru beralih fokus pada masalah yang tidak penting, dan jelas tak ada sangkut paut terhadap pernyataan yang disampaikan dalam aksi umat.

Misalnya, setelah aksi besar ‘Tangkap Ahok ‘ oleh kaum muslim pecah, media terus memberitakan tentang ‘sisi negatif’ aksi tersebut, seperti pemberitaan kerusakan taman.

Hal itu seperti diungkapkan Djafar Mukhlisin, kadis pertamanan DKI Jakarta.

‘’Baru saja kami selesai meninjau, ternyata kerusakan tidak separah yang kami bayangkan. Juga tidak terlalu luas, hanya sekitar 300 meter persegi,’’ katanya [tempo.co 15/10/2016]

Djafar Mukhlisin pun menegaskan, bahwa kerusakan taman Balai Kota tidak perlu dibesar-besarkan karena tidak ada kerusakan yang parah. Dia sendiri menyesalkan pemberitaan media yang terlalu membesar-besarkan hal tersebut.

Dia berpikir, media sengaja mengambil gambar dengan ‘zoom’ bagian taman yang rusak parah.

“Jadinya pikiran teman-teman di daerah juga separah itu. Apalagi dikaitkan dengan jumlah massa kemarin. Tapi ternyata hanya seperti ini [yang rusak]. Sementara area yang cukup panjang itu tidak bermasalah. Nanti teman-teman bisa memperlihatkannya.’’ [pojoksatu.id 15/10/2016].



Reporter :     Editor : Khalfani Aldebaran



Comments

comments


Komentar: 0