20 November 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Di Jakarta, Kematian 22 Anak Akibat Tambang Kaltim Dibicarakan


Di Jakarta, Kematian 22 Anak Akibat Tambang Kaltim Dibicarakan
(Foto: Ist)

KLIKPENAJAM - Kasus kematian 22 anak di lubang bekas galian tambang batu bara, Kalimantan Timur (Kaltim), jadi sorotan tajam dalam diskusi bertajuk Korupsi, Politik Sumber Daya Alam, dan Perempuan. Digagas oleh Indonesia Corruption Watch (ICW), menghadirkan sejumlah pembicara. Salahsatunya aktivis Ecosister Siti Maemunah.

"Ada 150 penambang di pertambangan Kalimantan Timur yang mestinya ditutup menurut undang-undang tapi enggak ditutup, dan akhirnya 22 pelajar meninggal dan tidak ada satupun yang diproses hukum," katanya di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta, beberapa waktu lalu, seperti dikutip Klik Penajam dari salahsatu laman online nasional.

Bagi Maemunah, miris bila membandingkan kehidupan anak-anak dan perempuan di wilayah pertambangan itu dengan kehidupan kota.

Ketika keluarga di kota besar bicara tentang kebutuhan-kebutuhan dan sekolah anak, orangtua yang hidup di kawasan pertambangan harus kehilangan anak mereka karena eksploitasi. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya tanggungan atau bantuan dari negara untuk orangtua yang kehilangan anak.

"Perempuan-perempuan itu akhirnya tidak ditanggung negara. Pertambangan juga butuh lahan dan air, tapi untuk dirusak. Padahal perempuan sebagai ibu juga sangat berkepentingan dan butuh untuk reproduksi dan keluarga, ini sangat merugikan," tegasnya.

Menurut Maemunah, masalah di Samarinda --contohnya-- sudah cukup parah, apalagi sampai menelan korban jiwa. Hal ini dianggap sama seperti kekejaman seperti zaman kolonial Belanda yang mewariskan kemiskinan dan kematian bagi rakyat.

Dia menyayangkan para orangtua di sana hanya akan mewariskan kerusakan lingkungan kepada anak. "Kalau dicermati korupsi ini cerita purba kala dari zaman kolonial belanda, orla (orde lama, Red.), orba (orde baru, Red.), sampai sekarang dan masih kental dengan eksploitasi dan kerusakan lingkungan. Jadi ini (eksploitasi di Samarinda, Red.) warisan yang panjang dan sangat merugikan rakyat," tukasnya. (*)

Reporter : Agam    Editor : Gumelar Akbar



Comments

comments


Komentar: 0