26 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Thomas dan Mayor Edan


Thomas dan Mayor Edan
Ilustrasi internet

“Bolehkah saya bertanya, di hadapan seluruh dunia: sapi siapa yang pernah saya ambil? Siapa yang pernah saya rampas haknya? Siapa yang telah saya terima uang suapnya, atau siapa yang pernah saya tindas sehingga mata dan hati saya tertutup?” Gejolak jiwa itu dirasakan Thomas Jefferson, Presiden ketiga Amerika.

Thomas dua kali jadi presiden, tahun 1801 sampai 1809. Ia juga penulis utama Deklarasi Kemerdekaan Amerika: Declaration of Independence, yang terkenal itu. Di masanya, Thomas dinilai sebagai figur pemikir dan tokoh politik. Sekaligus administrator terbaik sebagai kepala negara.

Fawn M. Brodie, penulis buku biografi Thomas, bertajuk: Thomas Jefferson, An Intimate History(1975), mengomentari pertanyaan Thomas di atas. Fawn menilai Thomas mengalami gejolak jiwa dahsyat dalam berpolitik. Pertanyaan itu diajukan Thomas untuk mengadili dirinya sendiri usai melepas jabatannya.

Bahkan di batu nisannya tidak tercantum jabatan mentereng Thomas sebagai mantan presiden. Buku biografi Thomas setebal 811 halaman, itu, sampai sekarang masih kerap diburu orang. Terutama bagi penikmat biografi, autobiografi dan politik. Apalagi Fawn menulisnya dengan begitu apik.

Adalah James Madison, pengganti Thomas. Ketika James dilantik sebagai presiden, Thomas malah tersenyum. Ia bilang, “Beban sebagai presiden telah lepas dari pundak saya, dan sekarang Madison yang mendapatkannya.”

Thomas juga berkomentar: “Kekuasaan adalah borgol. Dan sekarang borgol saya sudah lepas.” Namun, orang-orang sekarang kebanyakan malah melihat kekuasaan sebagai kalung permata dan brankas emas.

Ia memang dikenal sebagai pemimpin sederhana. Sederhana dengan sebenarnya, bukan polesan media. Dikenal sebagai presiden dengan utang yang meningkat, tanpa korup.

Seorang senator atau parlemen pernah mengira Thomas adalah seorang pelayan, karena pakaiannya yang sederhana. Di tahun 1811, Thomas menulis, “Bagaimana makhluk berakal budi bisa menawarkan kebahagiaan bagi dirinya sendiri dari kekuasaan yang dipakainya atas orang lain.”

Saat berkuasa ia sangat sederhana. Bahkan, enggan maju lagi padahal peluangnya besar. Usai melepas jabatannya, ia mengadili dirinya dengan menanyakan kesalahannya terhadap rakyat, orang-orang yang pernah di bawah kekuasaannya: Itulah salah satu cara Thomas Jefferson mengadili dirinya.

Tapi, ia bukan tanpa cacat. Thomas dikenal pernah selingkuhi pembantunya, Sally Hemmings. Juga kerap menggoda istri orang lain. Ia penentang keras semua agama. Baginya Yesus bukanlah Tuhan. Hobinya minum anggur. Ia paling sering jadi sasaran kampanye hitam saat kampanye.



Reporter : Rudi Agung    Editor : Gumelar Akbar



Comments

comments


Komentar: 0