16 Oktober 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

GP Ansor Harap Pilgub Kaltim Tanpa Isu SARA dan Black Campaign


GP Ansor Harap Pilgub Kaltim Tanpa Isu SARA dan Black Campaign
Pengurus GP Ansor Kaltim

KLIKPENAJAM.COM - Kampanye hitam (black campaign) dianggap menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari pilkada. Adanya kampanye hitam akan mengurangi kualitas demokrasi dalam hal pendidikan politik kepada masyarakat.

Ketua Gerakan Pemuda Anshor Kalimantan Timur menilai menjelang Pilkada biasanya kampanye hitam selalu muncul baik itu terkait dengan kasus pribadi sang calon misalnya korupsi, kasus asmara, asusila, dan bentuk kejahatan lain yang sengaja diblow up untuk mendown grade pasangan calon lawan.

"Ini ironi bagi pilkada kita. Padahal demokrasi kita sudah maju, tapi black campaign masih kerap digunakan untuk menang," kata Roby al Farobby di Kantor GP Anshor di Jalan Imam Bonjol, Samarinda, Kamis 11 Januari 2018.

Para Paslon dan tim sukses mestinya belajar banyak dari pilkada-pilkada sebelumnya. Kampanye hitam kontra produktif dengan semangat membangun demokrasi yang sehat. Ia memprediksi, kampanye hitam bakal marak pada Pilkada 2018 karena dinilai tiket emas untuk Pemilu 2019.

Roby mengatakan, fenomena black campaign ini tak mendidik masyarakat, tak mencerahkan, dan merusak kualitas pilkada. Sebab itu, Bawaslu harus lebih pro aktif menindak setiap potensi kampanye hitam.

Kaltim bersyukur pada pilkada 2018 nanti memiliki 4 Paslon yang pada tahap awal pemeriksaan berkas telah dinyatakan memenuhi syarat. Mereka akan ditetapkan pada 12 Februari 2018 dan akan menjalani masa kampanye mulai 15 Februari hingga 23 Juni 2018.

Karena itu, kredibilitas dan kuantitas para pasangan calon ini yang nantinya bakal diuji ketika masa kampanye dimulai pada 15 Februari mendatang.

"Jangan sampai isu SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) timbul dalam masa kampanye. Kaltim sudah kondusif dengan beragamnya suku, ras, agama yang damai. Ini yang kami minta tetap harus ada," kata Robby.

Ia pun mengingatkan, jangan sampai hanya karena perebutan kekuasaan, paslon kemudian menggunakan beragam cara, termasuk menggunakan kampanye hitam.

"Kalau ada paslon yang demikian, ini membuktikan belum ada kedewasaan dari paslon tersebut sehingga ia masih menggunakan politik primitif. Bagaimana bisa Kaltim akan maju, jika calon yang ingin majukan Kaltim, justru gunakan cara-cara primitif?" tegas Roby.

Geografis Kaltim yang begitu begitu luas membuat Kaltim memiliki kerawanan sosial yang patut diwaspadai Meskipun saat ini keempat pasangan calon memiliki keyakninan yang sama. Namun, para penduduk yang heterogen dari banyak suku membuat Kaltim berpotensi menimbukan konflik SARA.

"Itu yang kami minta tak terjadi. Kandidat harus berikan contoh bahwa perbedaan yang ada, justru sama sekali tak berimplikasi negatif dalam kondusifitas Kaltim jelang Pilkada dan masa kampanye," katanya. (*)

Reporter : Man    Editor : Khalfani Aldebaran



Comments

comments


Komentar: 0