16 Oktober 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

KPPG Kaltim: Keterwakilan Perempuan di Pilgub Minus


KPPG Kaltim: Keterwakilan Perempuan di Pilgub Minus
Hetifah Sjaifudian

KLIKPENAJAM.COM - Pemilihan Gubernur Kalimantan Timur tahun ini barangkali terasa hambar. Pasalnya, keterwakilan sosok perempuan dipastikan nihil dalam konstelasi 5 tahunan ini.

Nama Rita Widyasari yang sebelumnya mencuat, kini justru harus berurusan dengan hukum sehingga dipastikan tidak akan mengikuti Pilgub Kaltim. Selain Rita Widyasari, nama lain yang sempat muncul adalah Hetifah --anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Ia sempat diberi rekomendasi untuk maju di Pilgub Kaltim oleh sebagian besar Dewan Pengurus Daerah II, serta sayap dan organisasi masyarakat dari Partai Golongan Karya. Sayangnya, rekomendasi itu seolah jalan di tempat.

Munculnya keputusan Dewan Pengurus Pusat Partai Golkar yang mengusung Andi Sofyan Hasdam --mantan Walikota Bontang-- dan Nusyirwan Ismail --Wakil Walikota Samarinda-- sebagai pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Kaltim, memupuskan harapan keterwakilan perempuan di Pilgub Kaltim.

DPP Partai Golkar memiliki alasan kuat mengapa tidak mengusung Hetifah di Pilgub Kaltim. Dalam rilis resminya, DPP Partai Golkar mengharuskan Hetifah fokus di DPR RI. Pun alasan lain, Hetifah dinilai sebagai tulang punggung DPR dari Partai Golkar untuk Daerah Pemilihan Kalimantan.

Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) Kaltim, Diah Mawarda, mengaku sangat menyayangkan batalnya pencalonan Hetifah di Pilgub Kaltim. Menurut Diah, selama ini telah didengungkan 30 persen keterwakilan perempuan. Faktanya, pada setiap kontestasi, perempuan selalu tersingkirkan untuk menjadi calon.

“Mudah-mudahan dengan adanya kejadian seperti ini bisa menjadi contoh di kemudian hari dan jangan terulang kembali. Perempuan harus diberikan tempat untuk menjadi pemimpin,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia Samarinda, Ningsih Surya. Ia menjelaskan, batalnya Hetifah maju di Pilgub Kaltim, dinilai karena tidak adanya kesetaraan gender dan perhatuan kepada keterwakilan perempuan.

“Kemarin sempat mencuat nama ibu Hetifah. Kami sudah kembali lagi semangat, kami sebagai perempuan sangat bangga. Tetapi di detik-detik terakhir berubah,” ungkap Ningsih. (*)

Reporter : Syarifah Nabila    Editor : Khalfani Aldebaran



Comments

comments


Komentar: 0