20 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Pupuk Kaltim Ajak Nelayan Peduli Biota Laut Melalui Sharing Knowledge


Pupuk Kaltim Ajak Nelayan Peduli Biota Laut Melalui Sharing Knowledge
Manajemen Pupuk Kaltim dan pemateri berfoto bersama usai pembukaan. Foto: KLIKBONTANG/Fanny

KLIKPENAJAM.COM - Kepedulian Pupuk Kaltim terhadap kelestarian lingkungan di sekitar kembali diwujudkan. Perusahaan penghasil pupuk berkapasitas jutaan ton itu mengajak pembudidaya ikan yang tergabung dalam Koperasi Nelayan (Kopnel) Bontang Eta Maritim (BEM) berdiskusi pada Knowledge Sharing Fauna Laut yang Dilindungi di ruang Meranti Kantor Pusat Pupuk Kaltim, Jum'at, 6 April 2018.

Bersama salah satu pakar kelautan nasional, program CSV Pupuk Kaltim ini membahas hal-hal penting tentang berbagai jenis ikan yang dilindungi, dilestarikan serta pemanfaatannya diatur misalnya dalam peraturan menteri nomor 56 tahun 2016.

Tampak hadir Direktur SDM dan Umum Pupuk Kaltim, Meizar Effendi beserta jajaran manajemen perusahaan, Deni Efizon, M.Sc yaitu koprdinator program studi magister dan dokter ilmu kelautan pascasarjana Universitas Riau sebagai pemateri dan Ketua Kopnel BEM beserta anggota.

"Melalui kegiatan ini, kita akan mengetahui berbagai jenis biota atau fauna laut yang dilindungi. Selain itu, dapat arahan bagaimana upaya pelestariannya agar tidak ada aturan yang dilanggar dalam pemanfaatannya," ujar Meizar Effendi.

Dia melanjutkan, sebagai warga negara Indonesia yang baik dan peduli terhadap lingkungan, ada baiknya kita mengetahui fauna laut apa saja yang dilindungi oleh negara kita. Hingga saat ini, KJA-Kopnel BEM memiliki berbagai fauna laut diantaranya lobster, penyu, ikan hiu, ikan buntal, ikan mimi mintuno dan sebagainya. Kita harus memahami bahwa biota laut adalah bagian yang kelestariannya harus dijaga melalui berbagai upaya.

Diskusi ini untuk memberikan pencerahan kepada peserta tentang fauna laut yang dilindungi agar kita tidak asal tangkap saat pemanfaatan hasil laut yang ada di perairan Kota Bontang. Kalaupun dapat ditangkap dan dipelihara, harus sesuai dengan peraturan yang berlaku dan harus dilakukan pengurusan perizinannya.

Persaingan bisnis memang semakin marak. Jenisnya pun bervariasi, termasuk dalam memanfaatkan biota laut. Pun demikian, kita harus tetap menjaga kelestarian biota laut yang sudah sangat nyata manfaatnya. Tentu, untuk kesejahteraan masayarakat.

"Kami berharap peserta mendapatkan arahan mengenai cara memanfaatkan biota laut dengan baik dan benar. Yang terpenting adalah sesuai dengan aturan pemerintah," jelasnya.

Pada kesempatan itu, mewakili jajaran Direksi dan Manajemen Pupuk Kaltim, Meizar pun memohon doa dan dukungan dari seluruh pihak agar pada saat ini dan di masa yang akan datang, Pupuk Kaltim dapat beroperasi dengan baik dan lancar sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan kita semua.

Setelah kegiatan ini, kata Meizar, Pupuk Kaltim berharap masyarakat dapat memiliki kecakapan dalam meningkatkan daya saing yang tinggi meraih harapan untuk masa depan yang lebih baik melalui pengembangan KJA-Kopnel BEM.

Di tempat sama, Deni Efizon selaku pemateri mengungkapkan Indonesia memiliki berbagai potensi keaneka ragaman hayati kelautan. Negara ini, kata Dia, merupakan negara dengan wilayah pantai terluas kedua di dunia setelah Canada dengan berbagai kekayaan ekosistem hayatinya.

"Ada berbagai jenis Ikan yang dilindungi diantaranya Hiu paus, bambu laut, pari manta, napoleon atau ikan lemak, ikan terubuk atau ikan pias, hiu martil dan hiu koboi," ucapnya.

Disamping itu, ada juga larangan penangkapan dan pengeluaran biota laut jenis lobster, kepiting dan rajungan dari wilayah perairan Indonesia yang diatur pada Permen Kelautan dan Perikanan nomor 56 tahun 2016. Di dalamnya terdapat aturan misalnya yang melarang penangkapan dan atau pemgeluaran biota tersebut dalam keadaan bertelor.

Khusus untuk lobster, aturan yang digunakan berdasar pada ukuran panjang karapas diatas 8 centimer atau berat diatas 200 gram per ekor. Kepiting harus memiliki lebar karapas diatas 15 centimeter dengan berat diatas 200 gram. Sementara rajungan, lebar karapas wajib diatas 10 centimeter dengan berat diatas 60 gram per ekor.

Biota kepiting juga diatur waktu penangkapan atau pengeluarannya dengan periode 15 Desember-5 Febuari dalam kondisi bertelur atau tidak bertelur, 6 Febuari-14 Desember dengan keadaan tidak bertelur. Jika kepiting merupakan hasil budidaya, harus menyertakan surat keterangan asal.

Didunia internasional, Pembudidaya saat ini harus bersertifikat dan terdaftar. Proses pembibitan juga harus dipastikan dengan kode tertentu. Beberapa negara juga telah mengatur pembelian ikan dari tempat atau lokasi penangkapan yang sudah ditentukan.

"Berbicara perlindungan pelestarian fauna laut, banyak hal yang harus diperhatikan. Misalnya tidak sedikit nelayan kita membuang sisa jaring yang tidak terpakai langsung ke laut. Padahal, hal itu mampu menyebabkan terperangkapnya berbagai jenis ikan hingga menyebabkan kematian," tegasnya.

Selain pemerintah, tugas pemeliharaan dan control pemanfaatan hasil laut merupakan tanggung jawab masyarakat khususnya para nelayan. Walaupun ada juga Lembaga internasional yang mengatur perlindungan biota atau fauna laut misalnya CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora).

Menurut Undang-undang 31/2004 jo 45/2009 ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian siklus hidupnya berada di wilayah lingkungan. Target ikan yang masuk pada konservasi misalnya ikan yang terancam punah, langka, endemik, fekunditas rendah serta populasi yang menurun dratis.

Spesies target yang menjadi fokus perlindungan dan pelestarian oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan tahun 2015-2019 terbagi atas mamalia (paus, lumba-lumba, dugong), pisces (napoleon, pari manta, pari gergaji, hiu paus, hiu martil dan koboi, kuda laut, sidat, arwana, terubuk), reptilia (penyu, labi-labi), molusca (kima, lola), coentelatra (karang hias, bambu laut), serta echinodermata (teripang).

"Beberapa spesies ini perlu kita jaga dan hati-hati dalam memanfaatkannya. Tentu dengan memperhatikan berbagai aturan yang berlaku," harapnya.

Dia berpesan, jangan ragu untuk mengkonservasi suatu jenis ekosistem karena ada unsur terbaru yakni pemanfaatan dari sebelumnya yang hanya perlindungan dan pelestarian. Adanya perlindungan dan pelestarian, belum menjamin terjadinya konservasi yang baik pada ekosistem. Melainkan saat adanya pemanfaatan yang diatur, akan memberi dampak baik pada perlindungan dan pelestariannya. (Adv)

Reporter : Darwin Tri    Editor : Khalfani Aldebaran



Comments

comments


Komentar: 0